STADION White Hart Lane yang saat ini telah menjadi kandang Tottenham Hotspur kala itu menjadi saksi bisu sejarah laga krusial bertajuk “Timur melawan Barat”.

Kondisi lapangan diselimuti kabut dan disesaki sekitar 55.000 orang yang menyaksikan dengan seksama laga persahabatan antara dua klub negara yang memiliki perbedaan ideologi.

Pertandingan yang dihelat tahun 1945 seuusai Perang Dunia II itu mempertemukan Dynamo Kiev dan Arsenal. Bagi Russia, momen tersebut menjadi salah satu sejarah manis di kancah persepakbolaan mereka. Klub yang kini berada di negara Ukraina, Dynamo Kiev mengalahkan Arsenal 4-3.

Saat masih menjadi bagian dari Uni Soviet, Ukraina memiliki permainan sepak bola yang apik. Mereka punya pemain seperti Lev Yashin, salah seorang penjaga gawang terbaik sejagat versi FIFA. Pada Piala Dunia 1958-1966 Uni Soviet selalu masuk ke perempat final dan pada 1966 mereka menempati urutan ke-4.

Dalam ruang lingkup yang lebih kecil yaitu Piala Eropa, Uni Soviet bahkan lebih tajam lagi. Mereka memenangi kompetisi antarnegara Eropa itu tahun 1960 dan mejadi runner up pada 1964 dan 1972.

Prestasi negeri 11 zona waktu itu sangat berlawanan saat mereka sudah bubar dan salah satunya menjadi Rusia yang kita kenal sekarang.

Saat ini, Rusia minim prestasi. Posisi terbaik mereka dalam sepuluh tahun terakhir hanya mampu menembus semi final Piala Eproa 2008. Pada kasta tertinggi sepak bola yaitu Piala Dunia, Rusia bahkan tidak pernah bisa keluar dari fase grup semenjak 1994.

Selain karena pecahnya Uni Soviet yang menyebabkan para pemain kembali ke negeri asal mereka, permasalahan terbesar dari persepakbolaan Rusia saat ini ialah buruknya pengelolaan liga lokal sehingga suplai pemain muda bertalenta tersendat.

Situs id.rbth.com menyebut, “Sepak bola profesional di Rusia semakin hari semakin elite. Pemain berbakat dari daerah sulit menembus tim besar. Hanya anak-anak dari keluarga terhormat yang diterima di akademi klub penting. Padahal, hanya di situ pemain muda berkesempatan mengembangkan karier profesional mereka. Daerah-daerah di Rusia tak punya liga sepak bola anak-anak. Mereka juga kekurangan pelatih yang mau dibayar murah.”

Kultur keras suporter

Bukan sesuatu yang aneh lagi ketika kita membahas tentang fanatisme di antara para pendukung sepak bola Rusia. Negara ini terkenal akan hooligans (sebutan pagi pendukung sepak bola garis keras) yang ditakuti suporter negara lain.

Mereka terlatih, brutal, tidak kenal rasa takut, dan menganggap semua kekerasan sebagai bagian dari sepak bola. Korban terbaru dari keberingasan mereka adalah para suporter Inggris yang bertandang ke Prancis pada Piala Eropa 2016.

Para pendukung Rusia secara terkoordinasi menyerang suporter Inggris dan menyebabkan sekitar 30 orang dilarikan ke rumah sakit.

Dalam video yang ditampilkan oleh Vice News, terlihat orang-orang yang sedang berlatih untuk pertarungan jarak dekat dengan tangan kosong. Mereka bertelanjang dada dan bertarung di jalanan penuh salju dengan suhu sekitar 6 derajat celcius.

Perkelahian itu bertujuan untuk mempersiapkan hooligans ketika mereka berhadapan langsung dengan suporter lain. Menurut seorang hooligans bernama Mischa yang juga pengusaha di bidang konstruksi, kekerasan mereka merupakan bagian dari gaya hidup yang tidak bisa dipisahkan.

“Ini semua merupakan hal yang lumrah di negara kami. Di saat kami bertarung, adrenalin kami terpacu dan itu menyenangkan. Kami (para hooligans) bertarung sudah seperti keluarga yang saling melindungi satu sama lain,” tutur Mischa.

Disinggung mengenai keamanan saat Piala Dunia 2018, salah seorang pejabat Kremlin, Igor Lebedev menyatakan bahwa semua pihak tidak perlu khawatir.

“Mereka merupakan pendukung yang mencurahkan jiwa dan raga mereka demi tim yang mereka sayangi. Insiden perkelahian hooligans dengan suporter Inggris tahun 2016 disebabkan kepolisian Prancis yang tidak siap dalam menghadapi suporter kami. Saya jamin, Russia sudah siap menerima semua tamu dari seluruh dunia,” ujar Igor. (Muhammad Afin Romli, Raden Rahadianfa)***


Selengkapnya