Upaya pemadaman kebakaran di Ciremai/NURYAMAN/PR

KUNINGAN, (PR).- Sebaran api merambat timbul tenggelam membakar kawasan hutan taman nasional di lereng utara Gunung Ciremai dalam 12 hari terakhir, semakin merajalela. Api pun sulit diburu oleh para tenaga pemadam. Selain semakin meluas, lokasi-lokasi titik sebaran apinya semakin jauh dan medannya sangat sulit dijangkau para tenaga pemadam.

Terpantau “PR” Kamis 11 Oktober 2018 rambatan api kebakaran yang telah melalap lebih dari 1.000 hektare kawasan hutan taman nasionla di lereng utara gunung tertingi di Jawa Barat itu, sedang melalap areal-areal hutan padat ilalang. Semak mengering serta hutan pinus di seputaran Blok Cipangguyangan, Legokpicung, dan Panyusupan juga jadi sasaran.  

Ketiga blok tersebut berada pada kisaran ketinggian antara 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut di atas wilayah Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan.

Kobaran api tersebar di sekitaran itu, menurut Kepala Unit Polisi Hutan BTNGC Cita Asmara bersumber dari rambatan api yang telah belasan hari membakar dan belum bisa terkendalikan melalap blok-blok areal hutan taman nasional di lereng utara gunung tersebut. Cita Asmara dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah 1 Kuningan San Andre menyatakan, untuk menghentikan dan memadamkan rambatan api kebakaran di lereng utara gunung tersebut, BTNGC dibantu tenaga pemadam dari berbagai pihak dan sukarelawan selama 12 hari terakhir, nyaris tak henti-hentinya bergerak menyekat rambatan api disertai pemadaman langsung ke setiap titik sebaran api.

“Namun, seperti kita ketahui upaya-upaya menyekat rambatan api dengan pembersihan alur-alur sekat bakar yang ada dan pebuatan alur-alur sekat bakar baru, di banyak titik masih banyak yang jebol terlewati rambatan api. Selain itu, rambatan api kebakaran hutan di lereng utara Ciremai ini, sering kali tersembunyi menjalar membakar serasah ilalang dan rumput mengering melalui rongga-rongga di bawah hamparan tumpukan batu,” ujar San Andre yang sedang memimpin upaya menghambat rambatan api kebakaran itu di Blok Bintangot, di atas wilayah DesaSeda, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan.

Di balik itu, untuk menghadang semakin meluasnya rambatan api yang sedang melalap blok-blok hutan tersebut tadi, puluhan tenaga pemadam dari berbagai unsur bergerak tersebar melakukan berbagai upaya. Di antaranya ada yang bergerak langsung melokasilasi dan memdamkan titik-titk rambatan api, membuat ilaran-ilaran atau alur sekat bakar baru, dan membuka serta menyambungkan kembali jalur patroli hutan terputus tutupan semak belukar dan beberapa jembatan putus.

Tim dari berbagai pihak dan unsur sukarelawan terbagi dalam sejumlah kelompok itu, seperti beradu cepat dengan rambatan api merajalela terbagi dalam dua komando. Ada yang diberangkatkan dan diarahkan melalui komando posko oparasi penanganan kebakaran Ciremai pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kuningan, dan ada yang dikerahkan langsung pihak BTNGC.

Sementara itu, sebagaimana diberitakan “PR” kebakaran kawasan hutan taman nasional di lereng utara Gunung Ciremai yang telah berlangsngs elama 12 hari itu, terhitung merupakan peristiwa kebakaran ke delapan kali dalam kawasan TNGC selama musim kemarau ini. Berdasarkan lama waktu kebakaran dan luasan areal terbakarnya, kebakaran ke-8 kali yang hingga saat ini belum teratasi itu bisa dibilang kebakaran terparah. Bahkan luas areal terbakarnya ditaksir jauh lebih luas dibanding kebakaran serupa pada bagian lereng yang sama  pada tahun 2012.

Tercatat “PR” dalam tujuh tahun terakhir kebakaran kawasan TNGC paling luas  terjadi pada musim kemarau tahun 2012 dengan luas areal terbakar sekitar 900 Ha. Sementara luas areal terbakar dalam satu rangkaian kebakaran di lererng utara Ciremai dalam 12 hari terakhir, menurut taksiran posko operasi penanggulangan kebakaran Ciremai dari pihak BPBD, hingga Kamis 11 Oktober 2018 telah mencapai lebih dari 1.200 Ha.***

Oleh: Nuryaman


Selengkapnya