LGBT/CANVA

CIANJUR, (PR).- Dari 95 orang pengidap HIV/AIDS, tercatat 38 diantaranya adalah gay. Hal itu terungkap berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Cianjur per Januari-September 2018. Sekretaris KPA Cianjur Hilman mengatakan, kondisi tersebut dinilai semakin memperihatinkan. Pasalnya, hal itu mengindikasikan jika pelaku seks sesama jenis semakin menyebar.

“Bahkan, sekarang diperkirakan ada gay di setiap kecamatan di Cianjur. Mereka benar-benar sudah menyebar,” kata dia, Jumat 12 Oktober 2018.

Hingga saat ini, secara kumulatif terdapat 916 pengidap HIV/AIDS di Cianjur. Ia menjelaskan, mayoritas pengidap memiliki perilaku seks menyimpang. Hilman tidak menampik bahwa LGBT sudah mulai tumbuh hingga ke pelosok Cianjur. Diduga di wilayah selatan pun pertumbuhannya mulai pesat.

Ia mengaku, sangat malu dan prihatin dengan kondisi tersebut. Pasalnya, perilaku gay yang banyak ditemukan pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan HIV/AIDS di Cianjur.

“Perilaku LGBT, terutama gay itu yang paling cepat menularkan HIV. Dan faktanya memang tidak sedikit gay Cianjur yang positif HIV/AIDS,” ucapnya.

Oleh karena itu, KPA berusaha maksimal untuk mencegah semakin meluasnya perilaku LGBT. Terakhir kali, KPA mengundang 16 desa dengan warga peduli Aids yang sudah dibentuk. Melalui mereka, KPA sampaikan sejumlah keresahan saat ini. Desa dan seluruh warga, terutama orangtua dimohon untuk lebih memantau dan menyosialisasikan tentang HIV dan LGBT pada keluarga mereka.

“Ini akan jadi langkah kami. Sebenarnya, upaya pemkab sudah cukup banyak, tapi semua elemen masyarakat harus ikut bergerak membantu,” kata dia.

Hilman mengingatkan, perilaku LGBT tidak mengenal status sosial. Siapapun dapat terjebak dalam pergaulan menyimpang, sehingga konsistensi penanganan harus dilakukan sejak dini.

Kontes LGBT

Sementara itu, saat ini Pemkab Cianjur terus berupaya mencari identitas warganya yang diduga berpartisipasi dalam kontes Miss dan Mister Gaya Dewata 2018. Beberapa hari setelah pembatalan kontes berbau LGBT itu, belum ada informasi pasti terkait warga Cianjur yang tercantum sebagai peserta.

Belum diketahui berapa jumlah warga Cianjur yang berkompetisi. Pasalnya, informasi kontes tersebut kini tak bisa lagi diakses pasca pembatalan. Hanya saja, 14 orang warga Jawa Barat tercatat sebagai peserta kontes yang diduga akan berpindah lokasi penyelenggaraan itu.

Fakta bahwa warga tatar santri mengikuti kontes tersebut, diakui banyak pihak telah mencoreng nama baik Cianjur. Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat pun mengecam kontes dan keikutsertaan warga Cianjur.

“Ini memperihatinkan, apalagi kalau ada peserta dari Cianjur. Harus benar-benar ada pelarangan untuk kontes seperti itu,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Cianjur, Ahmad Yani.

Menurut dia, apa yang dilakukan warga Cianjur dalam kontes itu sudah menyalahi banyak hal. Apalagi, saat ini Cianjur menekankan program keagamaan dalam berbagai aspek di masyarakat.

Tidak heran, jika akhirnya berbagai pihak merasa kecewa atas tindakan warganya. Pasalnya, apa yang berusaha ditegakkan oleh pemerintah setempat justru dilabrak oleh warganya sendiri.

Oleh karena itu, MUI beserta pemkab setempat berupaya untuk merancang strategi pencegahan dan penyebaran paham menyimpang. Terutama yang berkaitan dengan LGBT.

“Belum lama ini, unsur muspida sudah melakukan rapat terkait penanganan penyakit masyarakat. Salah satunya terkait LGBT ini, semoga setelah poinnya dibahas dan dijalankan tindakan menyimpang bisa terus ditekan,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman mengaku, akan menelusuri identitas peserta asal Cianjur. Ia juga akan memanggil KPA untuk berkoordinasi dalam upaya tindaklanjut.***

Tags: 


Selengkapnya